Website Resmi | Abu Ahmad Zaenal Abidin, Lc.

Konsultasi Ustadz

Alhamdulillah…

Para pengunjung website yang dirahmati Allah ‘Azza wajalla, saat ini kami telah melengkapi website resmi Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin, Lc -Hafizhohulloh- dengan fitur Konsultasi Ustadz. Pertanyaan Anda insyaalloh akan dijawab langsung oleh Ustadz Abu Ahmad Zaenal Abidin, Lc -Hafizhohulloh-.

Peraturan dan Ketentuan Konsultasi :

1. Pertanyaan HARUS diajukan melalui kolom Komentar pada halaman ini, jika tidak maka TIDAK akan diproses.

2. Pertanyaan HARUS dengan bahasa yang sopan dan mudah dipahami.

3. Jika Ustadz Zaenal Abidin sedang sibuk, maka kepada para penanya diharapkan kesabaran Anda semua dalam menanti jawaban.

4. Dikarenakan KETERBATASAN WAKTU Ustadz, jawaban dari setiap pertanyaan hanya berupa POIN UTAMANYA saja, kami akan mengusahakan agar jawaban Ustadz lengkap dan detail dengan seluruh dalil-dalilnya. Namun jika tidak lengkap, harap maklum.

5. Pertanyaan yang sudah dijawab akan kami posting pada halaman Konsultasi Ustadz.

6. Pertanyaan yang tidak berkaitan dengan artikel yang diposting, atau bukan masalah-masalah agama maka tidak akan dijawab.

10 Comments for Konsultasi Ustadz

Aditya | February 15, 2010 at 9:18 AM

Assalam,

Ustd, Bagaimana hukumnya tidak sholat jum’at selama 1 tahun. Saya sedang mengikuti program sekolah bahasa di Jerman dan bekerja sampingan. Kota terpencil (tidak ada masjid). Selain itu, hari Jum’at saya tidak libur bekerja. Jam istirahat sangat terbatas, sehingga tidak bisa pergi ke kota lain. Mohon penjelasan.

Wassalam

from Admin:
Assalaamu’alaikum.
Pertanyaan antum sudah dijawab oleh Ust. Zaenal Abidin dan sudah bisa dilihat di halaman utama.
Semoga bermanfaat.
Wassalaamu’alaikum.

'abdulloh | February 26, 2010 at 12:21 AM

Assalamu’alaykum Ustadz ana mau menanyakan apakah ada syari’atnya duduk istirahat dalam shalat.. ketika hendak bangkit ke raka’at selanjutnya ? syukran

Admin says:
Pertanyaan anda sudah dijawab dan sudah bisa dilihat di halaman utama.

Ummu Zahra | March 21, 2010 at 5:29 PM

Assalamu’alaikum.

Ustadz, beberapa waktu yang lalu saya mengalami keguguran di usia janin 5 minggu. Pada waktu darah pertama kali keluar, saya masih melaksanakan sholat. Setelah dipastikan bahwa darah yang keluar adalah gugurnya janin, saya tidak sholat. Ketika mendapati darah berhenti, saya bersuci dan sholat. Ternyata, belakangan saya membaca fatwa Syeikh Utsaimin bahwa untuk kondisi seperti saya di atas, maka hukum darah yg keluar adalah darah istihadhoh, dimana tetap diwajibkan atas saya sholat dll. Mengingat bahwa saya telah meninggalkan sholat selama keluarnya darah, apa yang harus saya lakukan, ustadz? Masalah ini sungguh merisaukan saya….

Mohon penjelasannya. Jazakallahu khairan.

Wassalamu’alaikum

-Ummu Zahra-

Admin says:
Pertanyaan anda sudah dijawab oleh Ust. Zaenal Abidin.
Semoga bermanfaat.

Abu Rizqi | March 23, 2010 at 9:10 AM

Assalaamu’alaikum !

Pak Ustadz ana mau tanya terkadang ana diminta untuk memimpin do’a bila ada acara-acara seperti peluncuran produk baru di perusahaan tempat ana bekerja. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syari’at Islam. Kalau tidak boleh lalu bagaimana solusinya ?
Barakalloohu fikum.

Admin says:

Pertanyaan anda sudah dijawab.
Semoga bermanfaat

jaka | March 26, 2010 at 5:20 AM

Assalam.
pak ustad kan dikatakan bahwasannya orang yg tidak sholat jum’at selama 3 kali berturut-turut kan orang kafir. saya mau nanya ketika orang tersebut sudah menjadi orang kafir apakah ia masih diperbolehkan untuk sholat jum’at! dan juga jika diperbolehkan apakah sholat orang tersebut diterima oleh ALLAH SWT.
mohon diberikan penjelasannya ya pak ustad!

Admin says:
pertanyaan anda sudah dijawab oleh ust. Zaenal Abidin.
Semoga bermanfaat.

Abu Husna | March 29, 2010 at 10:50 AM

Assalamu Alaikum Wr.Wb.

Ustadz, belum lama seorang teman menelepon minta saran ke ana tentang masalah rumah tangganya. Intinya adalah dia minta saran bagaimana cara menasihati istrinya yang tidak mau sholat. Selama ini dia menasihati istrinya tetapi belum berhasil. Sampai dia bertanya apakah dia boleh menceraikan istrinya karena hal itu?

Admin says:
Wa’alaikumsalam. Pertanyaan anda sudah dijawab oleh Ust. Zaenal Abidin.
Semoga bermanfaat.
Wassalaam.

abu naufal | March 30, 2010 at 10:31 AM

Assalamualaikum , ust bagaimana hukum sholat sunnah sblm shubuh lebih dari 2 rakaat, misalkan ana sdah sholat sunnah qobliya shubuh kmudian smpai masjid ana sholat lagi tahitul masjd.bgaimana hukumnya ya ust..jazakumullah khairn.wslam

Admin says:
Wa’alaikumsalam. Pertanyaan anda sudah dijawab oleh Ust. Zaenal Abidin.
Semoga bermanfaat.
Wassalaam.

Adil | November 2, 2010 at 4:50 AM

Assalamu’alaikum..
Ustadz,apakah membasuh kaki orang tua dan meminum airnya adalah sunnah?(berbakti kepada orang tua).Jazakumulloh…


Admin says:
Alhamdulillah… pertanyaan Anda sudah dijawab oleh Ust. Zaenal Abidin dan bisa dilihat di halaman utama website ini.

Adnan Noviansyah | December 20, 2010 at 9:55 AM

Bismillah, Assalamu’alaikum
Ustadz, ana mau tanya manakah yang harus didahulukan antara membayar hutang dengan aqiqoh anak. Karena alhamdulillah ana baru dikaruniai seorang putra pada hari ini. Mohon penjelasan dan nasihat dari Ustadz.
Demikian, ana ucapkan Jazakumullohu khoiron katsiro..


Admin says :
Alhamdulillah… pertanyaan dari antum sudah dijawab oleh ust. zaenal dan bisa dilihat di web beliau.
Semoga bermanfaat.

Ummu Zahra | May 12, 2011 at 6:21 AM

Assalamu’alaikum,

Teman saya sudah lama menikah namun belum dianugerahi anak. Belakangan saya mengetahui bahwa ia telah mengadopsi seorang anak (masih saudara jauhnya yg
kurang mampu). Karena adopsi telah terlanjur dilakukan, saya hanya bisa memberikan masukan kepadanya dg mengirimkan suatu artikel tentang “Anak Angkat dalam Islam” sehingga bisa diperhatikan hal-hal tsb olehnya (seperti masalah hijab, waris, hukum berduaan dg anak angkat tsb, dan seterusnya.).
Alhamdulillah, di dalam akte kelahiran si anak sih tetap ditulis orang tua aslinya, bukan orang tua angkatnya. Tetapi sebenarnya, saya pikir, secara aktual akan sulit menjaga batasan-batasan hubungan non-mahram dg si anak karena mungkin sejalan dg waktu teman saya itu akan menyayangi si anak angkat tsb selayaknya menyayangi anak kandung. Ditambah lagi, si anak ‘kan taunya si ibu adalah ibu kandungnya (kebetulan yg diadopsi anak laki-laki). Namun, saya juga tidak berani mengatakan adopsi itu haram dan memintanya untuk membatalkan adopsi tsb.

Pertanyaan saya, jika adopsi terlanjur dilakukan seperti kasus di atas, sebenarnya apa yg harus dilakukan orang tsb….?

Jika pada akhirnya Allah menaqdirkan teman saya itu bisa hamil dan melahirkan, apakah boleh dia menyusui anak angkatnya meski dia sudah besar? Apakah jika adik iparnya yg perempuan (istri adik laki-laki teman saya) bersedia menyusui anak angkatnya tsb, apakah status si anak angkat bisa menjadi mahram (menjadi keponakan/anak susu dari adiknya)?

Mohon masukannya, ustadz.

Jazakumullah khair.
-Ummu Zahra-

Leave a comment!

Find it!

Tag Cloud

Copyright © 2012 Website Resmi - Abu Ahmad Zaenal Abidin, Lc..
Website powered by WordPress and UltrAjax wordpress theme designed by TopTut.com & TopWPThemes.com.
Visit WebHostingFan.com for the latest news on web hosting and cms review.